Apakah budaya selalu menjadi penghalang,
atau justru modal terbesar perempuan untuk memimpin?
Selama ini, filosofi Jawa Macak, Manak, Masak kerap menempatkan perempuan di ranah domestik. Namun, buku ini mendobrak pandangan tersebut. Melalui kisah nyata para perempuan penerus bisnis keluarga Mataraman dan analisis akademis, tradisi ini dimaknai ulang sebagai fondasi kepemimpinan modern:
Macak: Bukan sekadar berdandan, melainkan Personal Branding dan harga diri.
Manak: Bukan sekadar melahirkan, melainkan melahirkan inovasi dan kepemimpinan lintas generasi.
Masak: Bukan sekadar mengurus dapur, melainkan seni mengelola sumber daya dan strategi bisnis.
Buku ini hadir sebagai pengingat bahwa perempuan tidak harus memilih antara tradisi dan cita-cita. Karena di tangan perempuan yang tepat, budaya adalah kekuatan untuk bertransformasi.
Setiap perempuan berhak menentukan arti ‘macak, manak, dan masak’ dengan caranya sendiri, tanpa harus memadamkan mimpi di dalam hatinya.






Reviews
There are no reviews yet.